Di tengah dinamika ekonomi global tahun 2025, paradigma liburan keluarga telah bergeser dari sekadar rekreasi menjadi investasi strategis bagi kesejahteraan jangka panjang. Laporan terbaru menunjukkan bahwa meskipun 73% orang tua menghadapi tantangan keterjangkauan , sebanyak 92% tetap berencana bepergian dengan anak-anak mereka tahun ini.
Para ahli psikologi positif dan data dari US Travel Association mengungkapkan bahwa fenomena ini didorong oleh kesadaran akan “modal emosional” yang dihasilkan dari perjalanan. Berikut adalah lima alasan fundamental mengapa liburan kini dianggap sebagai investasi wajib bagi orang tua:
1. Memori Liburan: Aset yang Tak Terdevaluasi
Berbeda dengan barang elektronik atau mainan, memori liburan memiliki tingkat “kejernihan neurologis” yang luar biasa. Riset mencatat bahwa 62% orang dewasa memiliki ingatan masa kecil paling jelas tentang liburan keluarga yang dilakukan saat berusia 5 hingga 10 tahun.
Ingatan ini terbukti jauh lebih kuat dibandingkan memori tentang acara sekolah (34%) atau ulang tahun (31%). “Liburan berfungsi sebagai ‘jangkar naratif’ yang memperkuat identitas keluarga lintas generasi,” tulis para peneliti dalam studi tersebut.
2. Intervensi Kesehatan Jantung dan Mental
Investasi pada liburan juga merupakan bentuk manajemen risiko kesehatan fisik. Data medis yang signifikan menunjukkan bahwa wanita yang jarang berlibur memiliki risiko serangan jantung delapan kali lebih tinggi.
Bagi pria, liburan tahunan yang rutin dapat menurunkan risiko kematian akibat penyakit jantung sebesar 32%. Selain manfaat fisik, 89% wisatawan melaporkan penurunan tingkat stres yang drastis setelah kembali dari perjalanan.
3. Kebangkitan ‘Kidfluence’: Laboratorium Karakter Anak
Tahun 2025 menandai era “Kidfluence,” di mana anak-anak berperan sebagai “co-pilot” dalam perencanaan perjalanan. Melibatkan anak usia 7-18 tahun terbukti meningkatkan adaptabilitas mereka hingga 84%.
Selain itu, 68% orang tua melaporkan bahwa perjalanan membantu anak menjadi warga global yang lebih baik melalui paparan budaya dan perspektif baru. Ini adalah pendidikan informal yang memperkaya kurikulum sekolah konvensional.
4. Membangun Kohesi Lintas Generasi
Liburan memberikan ruang unik untuk “bonding” tanpa gangguan rutin harian. Sebanyak 85% orang tua menyatakan bahwa perjalanan membawa keluarga mereka menjadi lebih dekat.
Dampak ini juga dirasakan secara signifikan pada hubungan multi-generasi. Sekitar 78% anak melaporkan sangat menghargai waktu berkualitas bersama kakek-nenek selama liburan, yang membantu membangun jembatan emosional antar-generasi yang kuat.
5. Efek ‘Spillover’ terhadap Kebahagiaan Hidup
Berdasarkan Bottom-Up Spillover Theory, kepuasan selama liburan akan “tumpah” ke domain kehidupan lainnya, meningkatkan kebahagiaan hidup secara keseluruhan.
Dengan menggunakan kerangka psikologi positif PERMA (Positive Emotions, Engagement, Relationships, Meaning, Accomplishment), liburan membantu individu mencapai kondisi flourishing atau berkembang secara optimal. Sekitar 90% orang melaporkan merasa jauh lebih bahagia setelah berlibur, yang berdampak positif pada produktivitas mereka saat kembali bekerja.
Referensi:
Mirehie, M., & Sharayevska, I. (2022). Family travel, positive psychology and well-being. Materi ini merupakan bagian dari buku berjudul Tourism as a Pathway to Hope and Happiness yang disunting oleh T. V. Singh, R. Butler, dan D. A. Fennell, serta diterbitkan oleh Channel View Publications. Studi ini mengeksplorasi hubungan antara perjalanan keluarga dengan elemen-elemen psikologi positif seperti emosi positif, keterlibatan, dan penguatan hubungan.
US Travel Association. Family Vacations Create Lasting Memories. Dokumen ini merupakan ringkasan eksekutif dari survei yang dilakukan oleh Harris Interactive atas nama US Travel Association. Riset ini menyoroti bagaimana memori liburan masa kecil bertahan lebih lama dan lebih jernih dibandingkan kenangan rutin lainnya seperti acara sekolah atau ulang tahun.
Family Travel Association (FTA) & NYU SPS Tisch Center of Hospitality (2025). 2025 U.S. Family Travel Survey. Survei tahunan edisi ke-10 ini melibatkan hampir 1.600 orang tua dan kakek-nenek di Amerika Serikat. Laporan ini mengidentifikasi tren terbaru seperti “kidfluence” (peran anak dalam perencanaan) serta dampak perjalanan terhadap pengembangan karakter dan kewarganegaraan global anak.
Data Kesehatan Tambahan (Framingham Heart Study & American Psychological Association). Informasi mengenai dampak fisik liburan, termasuk penurunan risiko serangan jantung hingga 32% bagi pria dan delapan kali lebih rendah bagi wanita, bersumber dari data medis jangka panjang yang sering dikutip dalam literatur kesehatan terkait perjalanan.

